CGTN: Satu Keluarga, Xi Jinping Tekankan Masa Depan Hubungan di Selat Taiwan yang Berada di Tangan Rakyat Tiongkok

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 13 April 2026 - 09:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BEIJING, 13 April 2026 /PRNewswire/ — CGTN menerbitkan sebuah artikel mengenai pertemuan antara Xi Jinping, Sekretaris Jenderal Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok (CPC), dan Cheng Li-wun, Ketua Partai Kuomintang (KMT). Melalui kajian mendalam, artikel ini menyoroti makna di balik pertemuan tersebut dalam konteks relasi antarpartai dan hubungan di Selat Taiwan. Artikel ini menekankan, terlepas dari dinamika global dan situasi mendatang di Selat Taiwan, tren besar menuju kebangkitan bangsa Tiongkok tidak akan berubah, begitu pula dengan dorongan untuk mempererat persatuan masyarakat di kedua sisi selat.

Dalam sebuah momen penting yang berlangsung di Beijing pada Jumat pagi, Xi Jinping bertemu dengan Cheng Li-wun untuk membahas upaya mempererat hubungan di Selat Taiwan dan kerja sama antarpartai.

Istilah seperti "tanah air bersama", "satu keluarga", dan "perdamaian" menjadi kata kunci yang berulang kali disampaikan kedua pemimpin. Hal tersebut menegaskan, masyarakat di kedua sisi Selat Taiwan merupakan bagian dari satu bangsa, memiliki aspirasi bersama untuk hidup damai, memperbaiki hubungan, serta meningkatkan kesejahteraan.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

"Hubungan yang lebih erat di Selat Taiwan merupakan tanggung jawab yang selalu melekat pada CPC dan KMT, sekaligus mendorong kedua pihak untuk bekerja sama," ujar Xi.

Atas undangan Komite Sentral CPC dan Xi, Cheng menjadi ketua KMT pertama dalam satu dekade terakhir yang memimpin delegasi berkunjung ke Tiongkok daratan. Delegasi tersebut sebelumnya mengunjungi Provinsi Jiangsu dan Shanghai sebelum tiba di Beijing.

Membangun Masa Depan yang Cerah dalam Hubungan di Selat Taiwan

Dalam pertemuan tersebut, Xi menyampaikan empat usulan untuk mempererat hubungan di Selat Taiwan. Ia menekankan pentingnya memperkuat ikatan melalui pemahaman identitas dengan cara-cara yang tepat, menjaga "tanah air bersama" melalui pembangunan damai, meningkatkan kesejahteraan masyarakat lewat pertukaran dan integrasi, serta bekerja sama mencapai kebangkitan nasional.

Menurut Xi, inti dari upaya menjaga "tanah air bersama" terletak pada pengakuan bahwa kedua sisi di Selat Taiwan merupakan bagian dari satu Tiongkok.

Selama setahun terakhir, masyarakat di kedua sisi Selat Taiwan terus menolak separatisme "kemerdekaan Taiwan", serta campur tangan eksternal, sekaligus memperkuat upaya guna mendorong pembangunan damai dan kebangkitan bangsa Tiongkok.

Pemerintah di Tiongkok darat juga meluncurkan berbagai kebijakan untuk melindungi kepentingan bersama, termasuk platform daring bagi publik untuk melaporkan tindakan yang dianggap merugikan warga Taiwan oleh pihak-pihak "pendukung kemerdekaan".

Di sisi lain, aspirasi rakyat di Taiwan yang menolak separatisme dan campur tangan eksternal semakin menguat, bahkan sebagian warga turun ke jalan untuk menyerukan stabilitas dan pembangunan damai.

Pertukaran dan kerja sama juga terus diperluas. Salah satunya melalui ajang tahunan Cross-Strait CEO Summit 2025 yang diikuti sekitar 800 peserta dari Tiongkok daratan dan Taiwan untuk membahas transformasi industri, inovasi, dan kerja sama di Selat Taiwan.

Berkat berbagai kebijakan pendukung—seperti pembebasan biaya bagi warga Taiwan yang pertama kali berkunjung ke Tiongkok daratan, serta penambahan lokasi penerbitan izin hingga 100 titik—jumlah kunjungan dari dan menuju Selat Taiwan pada 2025 melampaui lima juta, angka tertinggi dalam enam tahun terakhir.

Cheng Li-wun menegaskan bahwa masyarakat di kedua sisi Selat Taiwan merupakan satu keluarga. Dia  turut mendorong upaya memperkuat pembangunan damai, menciptakan masa depan yang lebih cerah, dan mendukung kebangkitan bangsa Tiongkok.

Berpegang pada Konsensus 1992

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak kembali menegaskan pentingnya mempertahankan landasan politik bersama, yakni Konsensus 1992 dan penolakan terhadap "kemerdekaan Taiwan".

Konsensus ini menekankan bahwa kedua pihak berada dalam satu Tiongkok dan perlu bekerja sama menuju reunifikasi nasional.

Landasan tersebut dinilai penting karena menegaskan hubungan di Selat Taiwan yang bukan digolongkan hubungan antarnegara, bukan pula "dua Tiongkok" atau "satu Tiongkok, satu Taiwan". Sebaliknya, kerangka ini menjadi dasar dialog dan kerja sama sekaligus membuka peluang pembangunan damai.

Xu Xiaoquan, peneliti dari Institute of Taiwan Studies di Chinese Academy of Social Sciences, menilai kunjungan Cheng mencerminkan keinginan kuat masyarakat Taiwan untuk memperluas pertukaran dan kerja sama.

Ia menambahkan, arah menuju pembangunan damai dan reunifikasi sejalan dengan tren sejarah dan aspirasi publik sehingga dialog berbasiskan prinsip bersama menjadi jalan yang paling realistis ke depan.

"Kami menyambut setiap usulan yang mendukung pembangunan damai di Selat Taiwan dan berupaya semaksimal mungkin untuk mewujudkannya," ujar Xi. Ia menegaskan, "kemerdekaan Taiwan" merupakan faktor utama yang mengganggu stabilitas kawasan, dan tidak boleh ditoleransi.

Informasi selengkapnya:
https://news.cgtn.com/news/2026-04-10/One-family-Xi-stresses-keeping-cross-Strait-future-in-Chinese-hands-1MemjuedzKo/p.html

Berita Terkait

CGN Gelar “Open Day” Serentak di Lima Negara, Dorong Edukasi Energi Hijau dan Pertukaran Budaya
ATxEnterprise 2026 Tandai Transformasi AI di Dunia Usaha Asia Tenggara, Beralih dari Tahap Eksperimen Menuju Penerapan Nyata
Peringati Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia, Shanghai Electric Perkuat Praktik Ramah Lingkungan di Berbagai Proyek Lokal
Midea Building Technologies Luncurkan Solusi Pendingin Pusat Data Terintegrasi untuk Infrastruktur AI di Malaysia
Haier dan Departemen Pendidikan Jasmani Thailand Gelar “DPE x Haier CUP 2026”
indonesianbrokers.com Resmi Diluncurkan – Platform Independen Ulasan dan Perbandingan Broker & Fintech untuk Investor Indonesia
Bangun Perusahaan yang Siap AI: Singapura Luncurkan Inisiatif Baru untuk Percepat Adopsi AI dan Perkuat Ketahanan Digital
Texas Cardiac Arrhythmia Institute di St. David’s Medical Center akan menjadi tuan rumah konferensi internasional tentang aritmia jantung kompleks

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:50 WIB

CGN Gelar “Open Day” Serentak di Lima Negara, Dorong Edukasi Energi Hijau dan Pertukaran Budaya

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:40 WIB

ATxEnterprise 2026 Tandai Transformasi AI di Dunia Usaha Asia Tenggara, Beralih dari Tahap Eksperimen Menuju Penerapan Nyata

Minggu, 24 Mei 2026 - 04:34 WIB

Peringati Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia, Shanghai Electric Perkuat Praktik Ramah Lingkungan di Berbagai Proyek Lokal

Minggu, 24 Mei 2026 - 04:26 WIB

Midea Building Technologies Luncurkan Solusi Pendingin Pusat Data Terintegrasi untuk Infrastruktur AI di Malaysia

Minggu, 24 Mei 2026 - 04:17 WIB

Haier dan Departemen Pendidikan Jasmani Thailand Gelar “DPE x Haier CUP 2026”

Berita Terbaru